
Paragraf_pembuka
Kursi panas manajer Premier League 2025/2026 kembali berdenyut dengan kabar mengejutkan. Thomas Frank, manajer Tottenham Hotspur, menjadi korban terbaru dari rotasi manajerial yang semakin mengkhawatirkan. Dengan kepergiannya, Frank menjadi manajer ketujuh yang tidak mampu bertahan di tengah jalan musim ini, tidak termasuk pergantian pada pramusim.
Analisis mendalam
Frank, yang berasal dari Denmark, dituntut untuk menangani situasi yang sulit di Tottenham. Namun, kurangnya hasil positif di lapangan membuat klub tidak memiliki pilihan selain mengambil keputusan berat tersebut. Menurut data liga, performa Tottenham di bawah asuhannya menunjukkan penurunan signifikan dalam hal gol dan peluang yang diciptakan.
Statistik Kunci
Sejak ditunjuk sebagai manajer, Frank hanya mampu membawa Tottenham meraih 4 kemenangan dari 16 pertandingan. Statistik ini jauh dari target yang diharapkan klub, terutama saat persaingan di papan atas semakin ketat.
Pandangan Pelatih
Frank sendiri mengakui bahwa tantangan di Tottenham lebih berat dari yang diperkirakan. Namun, dengan tidak adanya perubahan signifikan dalam performa tim, keputusan untuk pensiun dini menjadi tidak terelakkan.
Penutup
Kebangkrutan Frank sekali again menjadi bukti bahwa kursi panas manajer di Premier League tidak untuk semua orang. Penggemar bola harus bersiap untuk lebih banyak pergantian manajer seiring musim ini berlanjut. Bagi para pelatih, adaptasi cepat dan strategi jitu adalah kunci untuk bertahan di level tertinggi sepak bola Inggris.












